Berbagi Sebagai Bukti Cinta Kasih


Foto Bersama Antara Tim Peduli dan Warga Panti Asuhan Mercy Indonesia Medan, Berdiri paling kanan pengurus panti, Berdiri paling kiri ketua tim peduli (Foto Dok. Pribadi)

Foto Bersama Antara Tim Peduli dan Warga Panti Asuhan Mercy Indonesia Medan, Berdiri paling kanan pengurus panti, Berdiri paling kiri ketua tim peduli (Foto Dok. Pribadi)

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 26 Desember 2004 merupakan hari yang paling menyakitkan bagi seluruh rakyat Indonesia terkhususnya bagi masyarakat Aceh dan Nias.

Hari itu bencana Gempa dahsyat berkekuatan 9,3 skala Richter yang kemudian disusul datangnya Tsunami, tanpa ampun menghantam dan memporakporandakan hampir seluruh wilayah Aceh-Nias serta beberapa wilayah lainnya dibenua Asia dan Afrika.

Saya masih kelas tiga SMA waktu itu. Bencana tersebut menewaskan lebih kurang 300.000 jiwa dimana lebih dari 120.000 korban tewas berhasil ditemukan dan dikuburkan sementara ratusan ribu lainnya meninggal dilaut dan tidak diketemukan.

Melihat berita sulitnya menjangkau daerah bencana tentu menambah pedihnya penderitaan. Media ramai memberitakan dan bala bantuan seperti makanan dan obat-obatan silih berganti tiba dilokasi bencana.

Waktu itu saya belum tahu benar arti berbagi, tapi semua siswa disekolah juga turut menyumbang sebagai bentuk dukungan sosial. Saya masih sekedar ikut-ikutan waktu itu.

Namun setelah memasuki bangku kuliah dan ikut bergabung dalam organisasi mahasiswa Kristen Universitas Negeri Medan, saya banyak belajar tentang arti berbagi sebagai bukti mengasihi sesama. Kegiatan-kegiatan sosial sering kami lakukan untuk melayani dan menjangkau anak-anak jalanan, narapidana dipenjara, maupun korban bencana alam.

Dari semua itu, yang paling saya ingat adalah kegiatan berbagi bersama para korban bencana Tsunami Aceh-Nias pada 7 Desember 2008. Kegiatan itu memang sudah menjadi resolusi akhir tahun kami. Tujuannya adalah berbagi Kasih Natal sekaligus untuk mengenang tragedi pahit Tsunami 2004.

Waktu itu Kami mengunjungi Panti Asuhan Mercy Indonesia yang merupakan salah satu panti tempat tinggal anak-anak korban bencana tsunami Aceh-Nias. Lokasinya terletak dijalan Mistar, Medan. Sehari penuh kami berada disana. Sedih namun bangga melihat ketegaran mereka ketika berbagi cerita. Anak-anak tetap mampu bersyukur dan tegar menjalani kehidupan. Kini sebagian dari mereka tentunya sudah dewasa.

Harapannya kegiatan sosial seperti ini dapat menginspirasi banyak orang untuk terus memperhatikan para korban bencana alam lainnya diberbagai tempat di Indonesia.

Kekristenan dan Politik, Makna Mesias dan Injil: Upaya Menyatukan Surga dan Bumi


Sangat menarik..

Servus Servorum Dei

 

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya

Wahyu 21:3

 

. . . datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga

Matius 6:10

 

 

 

KEKRISTENAN DAN POLITIK

“Politik itu kotor!”  “Gereja tidak boleh berpolitik!”

Demikianlah sekelumit komentar-komentar yang sering dan umum terlontar baik dari mulut kalangan rohaniwan dan para gerejawan, maupun mulut jemaat biasa.  Sedikit banyak komentar-komentar tersebut ada benarnya sebab harus diakui dalam banyak segi, sekarang ini kehidupan gereja marak diwarnai oleh budaya berpolitik.  Dari pemilihan pengurus organisasi intra gerejawi (atau komisi) sampai pemilihan Ketua Sinode, lazim terdengar penggunaan stratagem-stratagem politik.  Pemilihan para penatua dan diaken sebagai anggota kemajelisan jemaat pun dalam banyak gereja tidak lagi memperhatikan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Paulus dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1:5-9.  Tentu…

View original post 4,593 more words

Posted in Lanjutkan | Comments Off on Kekristenan dan Politik, Makna Mesias dan Injil: Upaya Menyatukan Surga dan Bumi

Forensik TI dan Penindakan Korupsi


TERUNGKAPNYA berbagai kasus korupsi yang melibatkan sejumlah petinggi negara, sebagai buah dari kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), seakan merupakan cermin betapa buruknya moral bangsa ini. Korupsi, gratifikasi dan pencucian uang adalah tipe kejahatan tanpa kuitansi. Ini bentuk kejahatan luar biasa, di mana pelakunya sangat lihai dan sangat tidak mungkin mempergunakan kuitansi sebagai tanda bukti penerimaan dan pemberian uang.

Lantas apa yang bisa dilakukan penegak hukum? Sulitnya menangani kasus-kasus seperti itu bukan berarti tak ada cara yang bisa dilakukan untuk memecahkannya. Sebab, di era teknologi canggih sekarang, penggunaan handphone, komputer, printer dan barang-barang elektronik lainnya tentu akan meninggalkan bekas yang bisa digolongkan sebagai bukti kejahatan. Hanya saja, bukti-bukti tersebut bersifat tidak nyata, melainkan maya.

Oleh karena itu, dalam menangani kasus-kasus luar biasa tersebut para penegak hukum akan sangat sulit jika semata-mata mengandalkan bukti konvensional (fisik). Untuk pembuktian di pengadilan, penegak hukum perlu mendapatkan bukti digital pada barang-barang elektronik yang biasa digunakan pelaku kejahatan.

Audit Forensik TI
Kita telah punya Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE Tahun 2008) yang mengakomodir bukti digital (maya) sebagai bukti sahih di pengadilan. Berdasarkan UU ITE, segala jenis barang bukti yang sifatnya digital bisa dijadikan bukti hukum. Lantas, dengan cara apa sebenarnya KPK bisa mencari bukti-bukti kasus-kasus besar tersebut?

KPK hendaknya lebih sering menggunakan audit forensik teknologi informasi (TI) secara tepat dalam menganalisis bukti kejahatan yang berhubungan dengan komputer. Namun, memperoleh bukti kejahatan korupsi sangatlah sulit, diperlukan sebuah teknik yang disebut forensik TI. Hal ini diharapkan bisa membantu KPK untuk menemukan bukti berbentuk digital dari suatu kejahatan korupsi.

Sebagaimana sering terlihat dalam pemberitaan televisi, tim penyidik KPK melakukan penyitaan komputer dan barang elektronik disertai dokumen-dokumen administrasi dari suatu tempat dengan dalil untuk memperoleh bukti. Salah satu contoh ketika penyidik KPK dipimpin Novel Baswedan datang ke Kantor Korlantas Polri untuk menyita barang bukti.

Keriuhan penggeledahan mewarnai pemberitaan umumnya media massa baik cetak maupun elektronik. Terhadap dokumen tersebut pastinya teknik forensik TI bisa digunakan dalam menganalisis dokumen-dokumen digital untuk memperoleh bukti.

Dengan menggunakan teknik forensik TI, secara ilmiah bisa dianalisis seluruh bukti digital baik yang sudah sengaja dihilangkan maupun yang diubah oleh pelaku. Dengan cara ilmiah ini juga bisa diperoleh keterangan dari sebuah dokumen digital untuk ditentukan keasliannya sehingga bisa ditentukan menjadi barang bukti di pengadilan. Namun, hendaknya KPK teliti dan hati-hati dalam memproses bukti-bukti tersebut, sebab mungkin saja pelaku sangat lihai dalam membela diri.

Tidak bisa dipungkiri, setelah ditangkapnya beberapa orang yang diduga terlibat kasus korupsi, gratifikasi dan pencucian uang seperti Rudi Rubiandini, Akil Mochtar (mantan Ketua MK), M Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat), Joko Susilo (mantan Kakorlantas Polri), Gayus Tambunan (pegawai pajak) dan lainnya, KPK mengemban tugas berat dalam proses pengungkapannya.

Indonesia kini benar-benar sedang memasuki dark ages (masa kegelapan). Sulit lepas dari keadaan bangsa yang penuh carut marut, apalagi jika ditambah kasus Bank Century dan Hambalang yang belum jelas finisnya. Akibatnya, bangsa negeri ini bagai harus mengulang kembali perjuangan dari awal untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan.

Sebaliknya, komisi anti rasuah (KPK) harus segera melakukan terobosan dengan memanfaatkan teknik forensik TI dalam setiap proses penyelidikan dan penyidikan. KPK juga harus benar-benar jujur dalam mengungkap setiap kasus. Setiap bukti harus akurat dan akuntabel, karena sudah jadi kebiasaan bagi mereka yang diduga melakukan korupsi, penyuapan atau pencucian uang pasti akan menyangkal setiap yang dituduhkan KPK.

Perlunya diperoleh bukti dari kejahatan korupsi karena daripadanya akan bias menjebloskan para koruptor ke penjara dengan yang hukuman seberat-beratnya. Oleh karena korupsi disebut kejahatan luar biasa (extraordinary crime), penanganannya harus luar biasa pula, salah satunya melalui teknik audit forensik TI.

Upaya penegakan hukum harus diperkuat dengan memanfaatkan teknologi canggih dan teknik forensik TI. Masyarakat berharap korupsi bisa dicegah dan diawasi menggunakan kecanggihan teknik tersebut. Dengan itu, orang akan gentar dan berpikir ulang untuk melakukan korupsi dan pencucian uang.

Akhirnya, adanya teknik forensik TI sebagai terobosan dalam upaya memberantas korupsi diharapakan bangsa ini akan mengalami perubahan. Melalui teknik ini, KPK akan lebih mudah menelusuri dan mendapatkan barang bukti. Semoga Indonesia bisa mulai bergerak untuk bebas dari korupsi yang kini menggurita dari atas hingga level bawah pemerintahan dan pemimpin negeri ini akan membawa Indonesia menuju kesejahteraan rakyatnya.

(Oleh: Chandra Irvan Diky Simarmata, Penulis pemerhati masalah sosial kemasyarakatan)

Posted in Lanjutkan | Comments Off on Forensik TI dan Penindakan Korupsi

Dari Trias Politika Menjadi Trias Corruptia


Korupsi kini semakin merajarela di era reformasi. Koruptor bukannya semakin berkurang, malah semakin hari semakin bertambah. Korupsi di Indonesia telah terjadi dari hal terkecil dalam birokrasi Negara ini seperti pengurusan KTP hingga pengurusan sengketa pilkada sekalipun.

Sepertinya walaupun Indonesia telah menjalani era reformasi selama lebih dari 10 tahun, namun seluruh pemikirannya tetap masih memegang teguh pemikiran seperti era orde baru yang penuh dengan aroma dan keinginan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Melihat kenyataan begitu banyaknya anggota DPR (Legislatif), institusi penegak hukum (Yudikatif) dan pemerintah (Eksekutif) yang telah ditangkap oleh KPK, mungkin itu merupakan salah satu bukti bahwa dibangsa ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga amanat Rakyat.

Jika kita mengingat dulu pernah belajar sejarah tentang ‘Trias Politika’ yang cirinya adalah pemisahan kekuasaan dengan tujuan agar tetap adanya pengawasan satu sama lain (Check and Balance). Namun sepertinya kini “Trias Politika” telah berubah menjadi “Trias Corruptia”. Hal itu nyata dipertontonkan oleh petinggi-petinggi negeri ini yang duduk dilembaga Negara sperti DPR, Kejaksaan, Polri dan kehakiman.

Jika sudah seperti ini apa gunanya lagi kita bernegara, sebab tidak ada lagi yang dapat dipercaya di negeri ini. Sama sperti yang pernah dikatakan oleh Cicero, jika eksekutif, legislatif dan yudikatif sudah sama-sama korupsi, siapa lagi yang akan mengawasi negeri ini, sebab yang mengawasi dan diawasi sudah bersepakat untuk sama-sama korupsi. Jelas rakyat akan semakin menderita dan mungkin saja Negara ini akan bubar dengan sendirinya atau malah jadi mangsa bagi Negara-negara lain disekitar kita yang berkeinginan terus mengeruk kekayaan Indonesia.

 

Kini Siapa yang Dapat Dipercaya?

Ketua MK Akil Mochtar telah diberhentikan sementara. Pemimpin yang seharusnya menjadi penjaga dibenteng terakhir konstitusi bangsa ini rupanya juga tidak mampu menjaga kepercayaan rakyat bangsa ini dan memilih masuk ke dalam jerat korupsi demi untuk memperkaya diri sendiri. Kembali kepercayaan rakyat telah dijual kepada oknum yang semata-mata hanya ingin membeli kemenangan dalam sengketa sebuah pilkada. Jadi wajar saja jika KPK turun tangan membekuk Akil bersama tersangka lainnya. Dan tak tanggung-tanggung “Total ada 13 orang yang diperiksa,” kata juru bicara KPK Johan Budi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/10/2013).

Tapi itulah seorang Akil, hanya manusia biasa, tidak mampu lepas dari godaan harta dan kelimpahan, meskipun harus meraihnya dengan cara yang menyakiti hati rakyat. Rakyat kecil kini semakin pesimis dengan bangsa ini. Tak ada lagi tempat mengadu ditengah carut-marutnya moral pemimpin bangsa ini yang doyan dengan korupsi.

Hanya tinggal sedikit lembaga Negara yang bisa dipercaya, dan mungkin hanya tinggal KPK saja. Rakyat hari ini kembali melihat para pemimpin yang tidak menjalankan amanat dan terlebih lagi melupakan begitu saja cita-cita pendiri bangsa ini. Pemimpin yang harusnya jadi penerus pergerakan cita-cita pendiri bangsa malah mengerogoti negaranya sendri.

Pada akhirnya kini bukan lagi orang jahat atau politisi jahat yang harus menyusup ke dalam suatu lembaga untuk menjalankan kepentingannya dan kepentingan kelompoknya, namun yang sekarang terjadi sepertinya orang baik dan politisi baik yang harus menyusup ke dalam suatu lembaga untuk memperbaikinya, sebab semua lembaga tersebut telah terisi oleh orang jahat dan politisi jahat.

Lembaga kini hanya bagi-bagi kekuasaan semata dan melupakan esensi dari ‘Trias Politika’. Mudah-mudahan segera muncul pemimpin baru yang dapat mengayomi seluruh Rakyat Indonesia sehingga rakyat tidak lagi berlama-lama dalam penderitaanya, atau mungkin saja sebenarnya pemimpin tersebut sudah ada di depan mata dan rakyat telah melihatnya. (analisadaily.com, 5 Oktober 2013).

 

Oleh: Chandra Irvan Diky Simarmata, Pemerhati Masalah Sosial

Posted in Lanjutkan | Tagged | Comments Off on Dari Trias Politika Menjadi Trias Corruptia

Memimpikan Pemilu Bersih Menggunakan E-KTP sebagai E-Vote


Image

Kategori berita: Opini Artikel dimuat pada: 06 Mar 14, 00:33 WIB

Oleh: Chandra Irvan Diky Simarmata. Komisi Pemilihan Umum  (KPU) tidak menepati janjinya, yakni mengumumkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) hasil penyempurnaan setiap bulan. Pasca penetapan DPT penyempurnaan Desember 2013 lalu, KPU baru akan melakukan pengumuman pada Maret 2014 (Kompas.com, 21/2).

Kericuhan soal DPT (daftar pemilih tetap) seperti biasa merupakan pesta awal yang terjadi setiap kali menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum. Negeri ini seperti tak pernah belajar dari pengalaman, permasalahan DPT bagaikan “benang kusut“ yang tak pernah bisa terselesaikan hingga saat ini. Alhasil DPT hanya menjadi bahan keributan antara KPU dan Partai Politik yang memiliki sejuta pandangan dengan versi kebenarannya masing-masing demi untuk menjaga kepentingan kelompoknya.

Disisi lain, proyek triliunan E-KTP yang digadang-gadang menjadi solusi dan akurasi DPT bisa dikatakan gagal. Data penduduk lewat E-KTP juga dianggap masih belum menjamin keakuratan data penduduk Indonesia terkhususnya data pemilih. Padahal E-KTP dapat dianggap sebagai solusi terbaik yang dimiliki bangsa ini dalam rangka pemutahiran data kependudukan untuk pelaksanaan Pemilu maupun pelaksanaan survei statistik seperti mencari angka kemiskinan.

Rampungkan Proyek E-KTP

Kericuhan terkait DPT nyatanya masih tetap terjadi ditengah riuhnya proses pembuatan E-KTP yang tak kunjung selesai. Sinkronisasi data antara KPU dan Kemendagri faktanya tak berjalan dengan baik sehingga penetapan DPT harus tertunda sehingga menimbulkan permasalahan baru.

Menurut hemat saya, permasalahan E-KTP (KTP Elektronik) seharusnya dapat segera terselesaikan jika pemerintah serius dan fokus, sehingga dalam proses Pemilu 2014 kita dapat memperoleh data Pemilih (voters) yang akurat. Namun nyatanya proyek E-KTP belum rampung sepenuhnya, padahal jika saja data DPT yang berasal dari E-KTP benar-benar akurat maka Indonesia akan mampu melaksanakan Pemilu yang baik di tahun ini.

Keuntungan lainnya, dimasa depan Indonesia sudah dapat menerapkan Elektronik Vote dengan menggunakan E-KTP yang dimiliki oleh setiap warga negara yang sah sebagai Syarat untuk memilih. E-KTP sebagai E-voters dimasa depan akan sangat bermanfaat karena dapat menghemat biaya dan memberi kemudahan. Selain itu, pelaksanaan Pemilu akan benar-benar terjamin kebebasan dan kerahasiaannya sehingga terwujudlah Pemilu yang bersih.

E-KTP Sebagai E-Vote

Setelah E-KTP Rampung, Indonesia kedepannya diharapkan dapat membangun sebuah website utama yang terjamin keamanannya hingga melebihi tingkat keamanan di Pentagon ataupun NASA. Website tersebut berguna sebagai penampung seluruh data kependudukan Indonesia beserta kelengkapannya, sehingga Elektronik Vote dapat dilaksanakan jika Pemilu tiba.

Kedepannya kita tidak perlu lagi harus beramai-ramai datang ke TPS dalam melakukan pemungutan suara. Pemungutan suara dapat langsung dilakukan dengan e-voters dari rumah, kantor, luar negeri atau dimana saja kita berada dengan syarat menggunakan NIK (Nomor induk keanggotaan) yang tertera pada KTP masing-masing. NIK harus sudah valid dan bersifat unique (unik) tanpa ada nama dan NIK ganda dan palsu yang masih ditemukan seperti yang masih terjadi saat ini.

Dengan adanya e-voters, warga dapat memiliki bilik suara yang terjamin dan bersifat digital. Setiap warga negara akan memiliki sebuah Email resmi yang diberikan oleh pemerintah berdasarkan NIK sebagai bukti warga negara Republik Indonesia yang sah. Kemudian ketika Pemilu tiba maka setiap warga negara dapat langsung melakukan pemilihan secara elektronik (e-vote) dengan cara login ke website Pemerintah menggunakan NIK E-KTP untuk kemudian menentukan pilihan (vote) terhadap salah satu kandidat calon Pemimpin bangsa ini.

Selain itu, untuk tetap memberikan suasana ramai pada pelaksanaan Pemilu, pemerintah hanya perlu menyediakan Tempat Pemungutan Suara Elektronik dititik-titik pemilihan diseluruh wilayah Indonesia sehingga setiap warga dapat datang langsung dan melakukan pemilihan. TPS tersebut memang sedikit mirip dengan TPS konvensional namun berbeda dari teknis penggunaanya. Warga negara tidak perlu lagi harus melakukan “contreng“ atau “coblos“ melainkan bisa langsung melakukan klik untuk menentukan pilihan (vote).

Setiap warga negara tentunya hanya akan dapat melakukan satu kali kesempatan dalam memilih para calon, sebab data dan NIK telah terdaftar secara langsung dan bersifat tunggal sehingga tak mungkin terdapat pemilih ganda maupun pemilih yang memilih lebih dari satu kali. Hal ini tentu akan mencegah terjadinya penyalahgunaan DPT seperti yang banyak di isukan sekarang ini.

Hasilnya nanti akan sangat berbeda dengan metode konvensional seperti yang digunakan saat ini dimana masih mengunakan bilik konvensional yang memakan biaya serta tinta sebagai penanda. Belum lagi KTP dan NIK ganda masih banyak ditemukan sehingga semuanya masih mungkin dipalsukan untuk sebuah kecurangan.

Mengenai Sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, tentunya Indonesia memiliki banyak tenaga ahli dibidang IT (teknologi informasi) yang mampu kerahasiaan dan independensi baik secara teknis maupun keilmuan. Dengan adanya konsep yang jelas dan kemauan politik (political will) dari seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan e-ktp sebagai e-voters maka hal itu tidak akan sulit dipersiapkan.

SDM yang mumpuni akan mencegah kecurangan yang mungkin akan terjadi sehingga membawa kesuksesan Pemilu dimasa depan. Penulis berharap cara ini dapat menjamin keakuratan (validitas) data penduduk, jumlah pemilih (DPT) dan jumlah warga yang tidak memilih (golput). Namun metode ini bukan tak mungkin untuk disalahgunakan, sebab mungkin saja terjadi konspirasi besar-besaran demi keuntungan kelompok tertentu. Oleh karena itu, semua pihak harus saling mengawasi satu sama lain agar tidak disalahgunakan demi keuntungan pihak tertentu.

Pada akhirnya, Pemilu bersih diharapkan dapat terlaksana di tahun ini. Kedepannya jika E-KTP sudah rampung, maka Pemilu masa depan dengan menggunakan e-ktp sebagai e-voter hendaknya dapat terwujud karena hal itu sangat mungkin dilakukan dimasa depan karena akan lebih menghemat biaya dan tenaga. Semoga kedepannya Indonesia dapat menerapkan teknologi ini sebagai jalan keluar dari permasalahan DPT di negeri ini.***

Penulis adalah alumnus FBS Unimed, Panitia KMRSU-7 2010 Perkantas Sumbagut dan pegiat pergerakan Pemilu-Bersih.

CC

Memahami rencana Allah bagaikan memindahkan air laut kedalam sebuah lubang yagn kecil!


Seorang profesor yang ateis berbicara dalam sebuah seminar di kampus.

Prof : “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Semua mahasiswa : “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

“Ya, Prof. Semuanya,” jawab mahasiswa itu lagi.

Prof : “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam tak dapat menjawab hipotesis profesor tersebut.

Suasana hening, kemudian dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya.

“Prof, bolehkah saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab profesor.

“Apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada.”

Mahasiswa itu menyangkal, “Kenyataannya Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali dan semua partikel menjadi diam tidak bereaksi pada suhu tsb. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mahasiswa itu melanjutkan, “Apakah gelap itu ada?”

Profesor menjawab, “Tentu saja, itu ada.”

Mahasiswa menjawab, “Sekali lagi Anda salah. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, tetapi gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya, jadi beberapa warna dan mempelajari gelombang setiap warna. Tetapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan itu. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya, mahasiswa itu bertanya, “Prof, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang Profesor tsb menjawab, “Tentu saja ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Seperti dingin atau gelap, kata kejahatan dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Tuhan yang Mahabaik tidak pernah menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya Tuhan di hati manusia.”

Profesor itu pun terdiam.

Siapakah mahasiswa itu?
Dia adalah: ALBERT EINSTEIN

Praise the Lord………..

 

Posted in Lanjutkan | Comments Off on Memahami rencana Allah bagaikan memindahkan air laut kedalam sebuah lubang yagn kecil!